fahriahmadsafar.blogspot.com

info lomba sholawat albanjari, bisa temen2 update disni, tak tunggu ... .

fahriahmadsafar.blogspot.com

info lomba sholawat albanjari, bisa temen2 update disni, tak tunggu ... .

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

fahrielbanjari.blogspot.com/

KOSONG.

fahrielbanjari.blogspot.co

KOSONG.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Lomba Karya Ilmiah Remaja 2012

Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-44 Tahun 2012
Kategori Peserta: siswa SMP-SMA usia 12-19
Deadline: 28 april 2012

Hadiah:
Pemenang akan mendapatkan piala dan piagam penghargaan dari LIPI serta uang tunai dari AJB Bumiputera 1912 sebesar:
Juara I : Rp 12.000.000,- (Dua belas juta rupiah)
Juara II : Rp 10.000.000,- (Sepuluh juta rupiah)
Juara III : Rp 8.000.000,- (Delapan juta rupiah)

Selasa, 17 Januari 2012

PENGEMBANGAN KALIMAT KARYA ILMIAH

Dalam menulis karya ilmiah, perlu diperhatikan syarat-syarat pengembangan kalimat efektif. Beberapa syarat tersebut dikemukakan berikut ini.

Penggunaan Kalimat yang Utuh
Kalimat utuh adalah kalimat yang semua unsur atau bagiannya hadir. Dalam kalimat tersebut, tidak ada bagian yang hilang. Berikut ini disajikan contoh kalimat yang tidak utuh.
Contoh:
(1)    Dalam rapat kemarin menghasilkan lima keputusan yang harus dilakukan bersama.
(2)    Ketidakberhasilan proyek itu karena pemborongnya yang tidak mantap.
(3)    Yakni batik tulis yang khas Jogyakarta.
Ketidakbenaran kalimat (1) disebabkan kalimat tersebut tidak menyebutkan apa atau siapa yang menghasilkan lima keputusan yang harus dilaksanakan bersama. Bagian itu dalam kalimat (1) dihilangkan sehingga pikiran yang diungkapkan kalimat tersebut menjadi tidak utuh lagi.
Dalam kalimat (2)  kita tidak melihat bagian kalimat yang menyatakan perbuatan apa atau dalam keadaan apa yang dilakukan atau dialami oleh ketidakberhasilan proyek itu sehingga dengan hilangnya bagian itu, kalimat menjadi tidak utuh lagi. Lebih-lebih lagi, dalam kalimat (3) ada beberapa bagian yang dihilangkan, yaitu bagian yang menyatakan siapa yang berbuat dan jenis perbuatan apa yang dilakukannya yang diterangkan oleh batik tulis yang khas Jogyakarta itu.
Jika kalimat (1), (2), dan (3) dibetulkan menjadi kalimat yang utuh, kalimat-kalimat itu menjadi sebagai berikut.
(1a)   Dalam rapat kemarin, mereka menghasilkan lima keputusan yang harus dilakukan bersama.
(2a)   Ketidakberhasilan proyek itu terjadi karena pemborongnya yang tidak mantap.
(3a)   Batik yang dipakai oleh Shinta itu tergolong ke dalam batik tulis yang khas, yaitu batik tulis yang khas Yogyakarta.
Kalimat (1) dapat juga kita betulkan dengan tidak menambah bagian lain ke dalam kalimat, tetapi dengan mengubah bentuk menghasilkan menjadi dihasilkan sehingga kalimat itu terjadi
(1b)   Dalam rapat kemarin dihasilna lima keputusan yang harus dilakukan bersama.
Atau dapat juga dibetulkan dengan cara menghilangkan kata dalam, sehingga kalimat tersebut menjadi
(1c)   Rapat kemarin itu menghasilkan lima keputusan yang harus dilakukan bersama.
Beberapa contoh lain ketidaklengkapan unsur kalimat dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut ini.
(4) Dari hasil penarikan sumbangan memperoleh dana sebesar seratus ribu rupiah.
(5) Pada data itu menunjukkan bahwa orang perempuan lebih banyak daripada orang laki-laki.
Unsur manakah yang merupakan subjek dari predikat (4) memperoleh, dan (5) menunjukkan? Atau kita dapat mengecek dengan, pertanyaan siap yang memperoleh dana sebesar seratus ribu rupiah, dan (5) siapa atau apa yang menunjukkan bahwa orang perempuan lebih banyak daripada orang laki-laki? Jawabannya tidak ditemukan dari ketiga kalimat tersebut. Unsur yang terletak di depan predikat bukan subjek karena didahului oleh preposisi (4) dari, (5) pada yang merupakan petunjuk bahwa unsur itu berfungsi sebagai keterangan. Untuk itu, kalimat itu dapat diubah sebagai berikut.
(4a) dari hasil penarikan sumbangan diperoleh dana sebesar seratus ribu
        rupiah.
(4b)   Dari hasil penarikan sumbangan kita (kami, anak-anak, kepala sekolah) memperoleh dana sebesar sartus ribu rupiah.
(4c)   Hasil penarikan sumbangan memperoleh dana sebesar sartus ribu rupiah.
(5a)   Pada data itu ditunjukkan bahwa orang perempuan lebih banyak daripada orang laki-laki.
(5b)   Pada data itu kami (kami, dia, penulis) menunjukkan bahwa orang perempuan lebih banyak daripada orang laki-laki.
(5c)   Data itu menunjukkan bahwa orang perempuan lebih banyak daripada orang laki-laki
Kalimat berikut  tidak mempunyai predikat.
(6) Percobaan ini untuk menemukan bibit padi unggul.
(7) Bacaan yang menarik minat anak usia sekolah dasar perlu diperhatikan dalam penyususnan buku pelajaran.
Kalimat di atas dapat diperbaiki sebagai berikut.
(6a)   Percobaan itu menemukan bibit padi unggul.
(7a)   Bacaan yang menarik minat anak usia sekilah dasar perlu diperhatikan dalam penyususnan buku pelajaran.
Kalimat di atas dapat juga diperbaiki sebagai berikut.
(6b)   Percobaan itu dimaksudkan untuk menemukan bibit padi unggul.
(7b)   Bacaan yang menarik minat anak usia sekolah dasarlah yang perlu diperhatikan dalam penyususnan buku pelajaran.
(7c)   Yang perlu diperhatikan dalam penyususnan buku pelajran adalah/ialah bacaan yang menarik minat anak usia sekolah dasar.

Penggunaan Kalimat yang Jelas
Kalimat yang strukturnya jelas dapat menunjukkan secara tegas tipe struktur mana yang digunakan. Berikut ini disajikan contoh kalimat yang strukturnya tidak jelas.
(8) Saya akan tanyakan masalah pemilihan mahasiswa teladan.
(9) Bapak sudah katakan bahwa kau harus belajar lebih giat lagi.
(10) Anda herus tunjukkan kebenaran kata-kata Anda itu.

PENGGUNAAN KOSAKATA

Sumber dan Cara Pengembangan Kosakata
Perkembangan kosakata diperlukan dalam kaitannya dengan usaha perkembangan konsep dan gagasan kehidupan modern. Dalam hal ini, ada dua masalah pokok yang perlu diperhatikan, yaitu masalah sumber pengembangan dan cara pengembangannya. Dua masalah tersebut dikemukakan berikut ini

Sumber Pengembangan Kosakata dari Bahasa Indonesia
Kata Indonesia yang dapat dijadikan bahan istilah kata umum, baik yang lazim maupun yang tidak lazim, yang memenuhi salah satu syarat atau lebih berikut ini.
1)   Kata yang dapat dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksudkan.
Contoh:
tunak (steady), telus (percolate), imak (simulate)

2)   Kata yang lebih singkat daripada yang lain yang beracuan sama.
Contoh:
gulma bukan tumbuhan pengganggu
suaka (politik) bukan perlindungan (politik)
3)   Kata yang tidak bernilai rasa (konotasi) buruk dan yang sedap didengar (eufonik).
Contoh:
pramuria bukan hostes, tunakarya bukan penganggur

PENGGUNAAN HURUF DAN TANDA BACA

Penggunaan Huruf kapital

1)      Huruf pertama kata pada awal kalimat
Contoh:
Siapa temanmu?
Semua harus datang.
2)      Huruf pertama petikan langsung
Contoh:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?
”Kemarin datangnya,”  kata  Ibu.
3)      Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan
Contoh:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, , Quran, Weda, Islam, Kristen.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4)      Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh:
Sultan Hasanuddin,
Haji Agus Salim
5)      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
 Contoh:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Tahun ini ia pergi naik haji.

6)      Huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Wakil Presiden Moh. Hatta, Perdana Menteri Nehru, Profesor Heru, Gubernur Irian Jaya.
7)      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir Jendral Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
8)      Huruf pertama unsur-unsur nama orang
Contoh:
Imam Suyitno, Retno Sulistyowati, Shinta Ika Prastiwi, Heni Dwi Arista, Kartini
9)      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran
Contoh:
Mesin diesel, 15 volt, 5 ampere
10)  Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa
Contoh:
bangsa Indonesia
suku Using
bahasa Using
11)  Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan
Contoh:
Mengindonesiakan kata asing yang keinggris-inggrisan
12)  Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah
Contoh:
tahun Hijriah, bulan Maulid, hari Jumat, hari Lebaran, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Perang Dunia II
13)  Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama
Contoh:
Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
14)  Huruf pertama nama geografi
Contoh:
Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Semeru, Jalan Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah Baliem, Ngarai Sihanok, Selat Lombok.

Metode Penulisan karya Ilmiyah

Tahapan Penulisan Ilmiah

  • Tahap Pemilihan Topik atau Pokok Bahasan
  • Tahap Pengumpulan Informasi dan Bahan
  • Tahap Evaluasi Informasi dan Bahan
  • Tahap Pengelolaan Pokok-pokok Pikiran
  • Tahap Penulisan
  • Tahap Penyuntingan

Keterampilan yang diperlukan dalam menulis ilmiah
  • Keterampilan bahasa (ejaan, pilihan dan bentikan kata, kalimat, paragraf)
  • Keterampilan penyajian (sistematika penyajian judul, subjudul, sub-subjudul)
  • Keterampilan perwajahan (format, ukuran kertas, jenis kertas, tipe huruf, penjilidan, bibliografi, apendiks, lampiran)

Hal penting dalam penulisan ilmiah:
  • gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah harus jelas dan tepat dalam penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal.
  • teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan
  • Penulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar.
  • Karena bersifat reproduktif, penerima pesan harus mendapat kopi yang sama dengan si pemberi pesan.
  • Karena bersifat impersonal, tulisan ilmiah tidak boleh menggunakan pernyataan yang menggunakan kata ganti penulisnya.
  • Dalam tulisan ilmiah, sering digunakan kalimat pasif.
  • Pembahasan secara ilmiah mengharuskan kita berpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebagai premis argumentasi (sumber kutipan).
  • Teknik notasi ilmiah dapat menggunakan catatan kaki, tapi lebih disarankan menggunakan teknik kutipan dan umber rujukan.

Kecenderungan sikap ilmiah
  • Keinginan mengetahui dan memahami
  • Kecondongan bertanya semua hal
  • Kecondongan mencari data dan makna
  • Kecondongan menuntut pengujian empiris
  • Penerapan logika
  • Kecermatan dalam memeriksa pakal pikir

Ciri Tulisan Ilmiah
  • Empiris: informasi yang disampaikan bersifat faktual yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan, kajian pustaka, penelitian.
  • Sistematis: adanya keteraturan, keterkaitan, dan ketergantungan antarbagian
  • Objektif: bebas dari prasangkan perorangan/pribadi
  • Analitis: berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang lebih rinci.
  • Verifikatif: mengandung kebenaran ilmiah yang dapat diuji

Sumber kesesatan dalam berpikir ilmiah
  • Penggunaan istilah yang tidak tepat dapat menimbulkan kesalahan penafsiran
  • Hal yang tidak relevan dicantumkan dalam karya tulis, misalnya mencantumkan perasaan pribadi, sehingga tidak berpusat pada apa yang dipikir tapi pada siapa yang diajak berpikir.
  • Apa yang ada dalam kausalitas logis, belum tentu ada dalam kausalitas empiris.
  • Penggunaan definisi sebagai pangkal pikir yang salah.
  • Penghindaran dari sumber kutipan yang menantang gagasannya, sehingga tidak mau menerimanya (Kaum pragmatis tidak mau memperhatikan pandangan kaum analis yang kompleks)
untuk lebih lengkapnya bisa temen2 dowload disini

Selasa, 03 Januari 2012

Permainan Tradisional Digital; Berbudaya Melalui Teknologi

Tentu masih terekam dengan baik di benak kita kala beberapa waktu lalu Malaysia mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya mereka, pula Tari Kecak Bali. Kala itu, kita beramai-ramai geram dan mengutuki Malaysia sekena kita. Satu tulisan unik membuat saya bertobat. Tulisan itu memaparkan bahwa selama ini, disadari atau tidak, kita tidak pernah benar-benar berusaha untuk mengabadikan dan melestarikan budaya kita. Budaya bangsa menjadi asing di rumah sendiri.

Di sisi lain, pada suatu malam, saya iseng mengajak adik-adik dan sepupu-sepupu kecil saya bermain cublek-cublek suwung. Namun baru beberapa detik mereka menggeleng berjamaah tanda tak tahu permainan ini. Lalu saya tawarkan game terbaru di laptop dan dalam hitungan menit mereka fasih menjalankannya. Saya tergelak menahan senyum. Betapa generasi bangsa telah semakin jauh dari budayanya, dalam contoh ini permainan tradisional yang sarat nilai sosial dan edukatif. Permainan tradisional juga semakin asing di dunia anak-anak nusantara. Sebelum kembali diklaim negara lain, ada baiknya kita mewariskannya pada generasi penerus kita.

Mengapa Permainan?
Bukan tanpa dasar permainan dipilih sebagai jembatan budaya dan generasi bangsa. Dalam permainan, anak akan lebih rileks dan merasa senang. Tanpa mereka sadari, mereka juga belajar budaya secara langsung. Lebih lanjut, permainan merupakan satu kegiatan wajib anak-anak untuk mengimbangi kinerja otak kiri dan kanan. Permainan merupakan kebutuhan yang tidak lagi terakomodasi dengan baik pada dekade terakhir. Anak-anak kita disibukkan dengan segala serbi kegiatan pengasahan bakat dan minat, les ini, kursus itu. Mereka tidak lagi menikmati asyiknya berkejaran kala bermain benteng, indahnya bekerja sama dalam gobak sodor, dan mudahnya belajar matematika dalam dakon. Memang, bersenang-senang tidak hanya melalui permainan. Tak salah pula jika mereka berbahagia dengan segala aktivitas mereka, segala bentuk kursus, les, dan semacamnya. Namun, tetap ada benarnya jika permainan tradisional yang sarat nilai itu didekatkan kembali pada mereka. Toh, bagaimana pula itu warisan bangsa yang berhak, dan bahkan wajib, kita rumat sebagai identitas bangsa.

Permainan Tradisional Digital
Agak janggal mungkin mendengar dua kata tersebut berpadu, digital dan tradisional. Terkesan kontradiktif mungkin, namun kita harus mulai berdamai dengan segala pertentangan untuk kemajuan sekaligus pelestarian budaya serta nilai luhur bangsa. Melalui permainan, anak-anak akan merasa lebih bebas dan senang untuk belajar. Melalui permainan pula, budaya bangsa dapat dilestarikan. Nilai-nilai luhur bangsa yang selama ini hanya diajarkan di sekolah harus mulai didekatkan kembali ke dunia anak-anak melalui permainan. Permainan tradisional tak lagi harus datang dalam bentuk tradisional. Permainan tradisional yang mulai asing itu harus dikemas lebih menarik. Teknologi yang dewasa ini menjadi teman terdekat anak-anak kitalah yang bakal menjadi kepanjangan tangan kita.

Melalui permainan game di laptop dan piranti elektronik lain yang karib dengan generasi muda kita, kita tawarkan permainan tradisional digital. Permainan tradisional yang dipadukan dengan teknologi secara tepat akan menjadi solusi kreatif mengatasi kesenjangan budaya pada generasi muda.Tentu permainan tradisional ini harus dikemas sekian rupa hingga nilai-nilai sosial, moral, hingga edukatif tetap tersampaikan dengan baik. Teknologi harus dirancang agar anak tak lagi egois dan mengenal dirinya, namun juga mengerti teman di sekitarnya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More